Aku Rindu Rumah Mungilku


Ada yang bilang, menulislah apa yang ingin kamu tulis, dan tuliskan apa yang kamu pikirkan. begitu banyak yang saya pikirkan, sehinga saya ingin menuliskan semuanya disini. sepertinya saya jadi ketagihan menulis, setiap melihat blog kecil ini, ingin rasanya memberi tulisan walau satu paragraf, sebagai hadiah kesyukuran atas setiap hari yang saya jalani.

tiba-tiba saya teringat waktu itu, diwaktu kecil, dan sekarang saya sedang berusaha menyambung ingatan masa kecil saya. disebuah rumah sederhana ditengah kota yang belum seramai sekarang. sebuah tempat yang sangat nyaman untuk saya, dengan halaman yang luas dan ditumbuhi banyak kaktus dan ilalang.  terasa damai dan menyenangkan.  dibelakang rumah mungil ini mengalir sungai kecil dibawahnya, sehingga kalau turun harus super hati-hati agar tidak terpeleset masuk sungai :D. sungai yang sering dipakai tetangga saya untuk mencuci dan lain-lain. sungai ini berbatasan dengan bukit yang lumayan tinggi. bukit yang hijau dengan pepohonan, dan beberapa rumah penduduk yang jarang, sehingga kalau keatas harus mendaki dengan tangga tanah yang sengaja dibuat mereka.  haha saya selalu kesulitan untuk naik. kaki kecil yang harus terbuka lebar untuk menaiki tangga orang dewasa, lalu saya pegangan ditanah, alhasil tangan saya kotor :D.

saya paling suka dengan suasana fajar. jika hari itu sudah tiba, saya sangat bersemangat untuk bersekolah, sekolah TK nol kecil yang tidak jauh dari situ. saya masih ingat payung merah muda bargaris yang sering saya bawa kesekolah. waktu itu saya masih sempat melihat payung itu, dan sekarang entah dimana :’(.

sebelum itu, saya sering keluar rumah, ketengah halaman sambil menghirup udara segar, lalu melihat kebelakang, bukit yang ada dibelakang rumah, bukit yang saaangat tinggi, meskipun begitu, ada saja rumah diatasnya, terfikir, bagaimana mereka membuat rumah diatas sana? :).

setiap hari, sungai dibelakang rumah adalah tempat bermain favorit kami. saya selalu mandi disungai, apalagi pas lihat teman sekelas juga mandi disitu. meskipun airnya super dingin layaknya es batu, tetap saja tidak kapok mandi disitu, haha saya memang paling rajin mandi disungai meskipun tidak disuruh. airnya setinggi dada dan tidak begitu deras. namanya anak kecil, tidak perduli, meski main air sampai bibir jadi ungu (bukan biru lagi) :D.

pepohonan bukit yang diterpa sinar mentari pagi lalu memantul memancarkan cahaya yang begitu indah serta bunyi gemericik air sungai yang membuat saya selalu tidur nyenyak tiap malam. tapiii…

sekarang halaman kaktus dan ilalang itu tidak ada lagi, semua gersang dan semakin banyak rumah yang dibuat disitu. jangan tanya karena mungkin sudah harus seperti itu. rumah kami yang mungil terbelenggu dengan rumah lain. sungai yang dulu bersih mulai tercemar. suasana yang sangat berbeda dari dahulu. sedih.. ia. kini kami meninggalkan rumah itu, rumah yang penuh dengan kenangan, rumah tempat saya dibesarkan, rumah dengan segala macam kisah didalamnya. dan kini rumah itu tidak ada lagi, lenyap…

disini„ saya teringat itu semua. hal-hal yang membuat senang dan tiba-tiba sedih. mungkin sudah harus seperti itu.

Iklan

9 pemikiran pada “Aku Rindu Rumah Mungilku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s